Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

7 Hewan Asli Indonesia yang Sudah Dinyatakan Punah

taukah-anda.com - Seiring dengan semakin pesatnya pertumbuhan manusia hingga sekarang, mau tidak mau juga mendesak keberadaan atau eksistensi dari hewan-hewan yang memiliki habitat di hutan.

Tidak jarang dari hewan-hewan tersebut kebingungan untuk mencari tempat tinggal, mencari makan sampai dengan menyelamatkan dirinya dari keserakahan dan kerakusan manusia. Selain itu, tidak sedikit dari hewan-hewan tersebut yang dibunuh untuk diambil beberapa dari organ tubuh mereka karena memiliki nilai jual yang tinggi.

Indonesia memiliki keragaman fauna khas yang tak dipunyai negara lain. Namun, ada beberapa hewan asli Indonesia yang telah dinyatakan punah. Kepunahan hewan-hewan ini disebabkan beberapa faktor. Faktor yang paling berpengaruh adalah ulah manusia. Populasi manusia yang makin lama makin bertambah mampu menggeser habitat dan mengganggu hajat hidup para hewan. Bahkan, mereka juga tega melakukan perburuan liar hanya demi keuntungan pribadi. Berikut ini adalah 7 hewan asli Indonesia yang telah dinyatakan punah.

1. Tikus Pohon Raksasa Verhoeven (Papagomys Theodorverhoeveni)


Tikus pohon raksasa Verhoeven (Papagomys theodorverhoeveni) adalah tikus punah dari upafamili Murinae yang pernah hidup di Flores, Indonesia. Ia dinyatakan punah pada tahun 1996, dan dianggap telah punah sebelum tahun 1500 M. Namun, IUNC baru mengumumkannya secara resmi di tahun 1996. Spesies ini dikenali hanya dari beberapa fragment subfosilnya saja. Walaupun demikian, beberapa ahli menduga ada kemungkinan spesies ini masih hidup karena belum dilakukan penelitian menyeluruh di Flores.


Fosil hewan ini pertama kali diklasifikasikan oleh Dirk Hooijer (1957), dan diklasifikasi ulang oleh Guy Musser (1981). Nama ilmiahnya merujuk pada Theodor Verhoeven, seorang pendeta dan paleontolog Belanda yang menemukannya pada tahun 1956. Ekskavasi dilakukan di Liang Toge, sebuah gua di dekat desa lama Ola Bula, Nagekeo, Flores. Saat ini fosil tersimpan di NCB Naturalis, dahulu Rijksmuseum van Natuurlijke Historie, di Belanda.

2. Tikus Gua Flores (Spaleomys Florensis)


Tikus gua flores (Spelaeomys florensis) adalah tikus punah yang pernah hidup di Pulau Flores, Indonesia. Berdasarkan penilaian MacPhee dan Flemming, spesies ini dinyatakan kepunahannya pada tahun 1996, tetapi dipercayai telah punah sebelum tahun 1500 M. Spesimen ini diketahui hanya dari beberapa fragmen subfosilnya saja. Ia adalah satu-satunya anggota dari genus Spelaeomys.

Analisis Musser (1981c) menunjukkan bahwa spesies tidak berhubungan dekat dengan spesies tikus-tikusan endemik Nusa Tenggara lainnya, seperti Hooijeromys, Komodomys, Papagomys, atau Paulamys. Ia berhipotesa bahwa Spelaeomys adalah bagian dari genera lampau setempat yang hidup di Papua, dan mungkin juga mencakup Australia dan Timor. Pola geraham oklusal dan konfigurasi fragment tengkoraknya (yang dipelajari oleh Musser) adalah bentuk raksasa yang menyerupai spesies-spesies Pogonomys dan Chiruromys di Papua, meskipun diperlukan data tambahan untuk menggolongkannya dalam kelompok tersebut. Alternatif hipotesanya adalah sebagai anggota dari Pithecheir yang tersebar di Paparan Sunda dan Sulawesi. Dua genera, yaitu Lenothrix (Sunda) dan Lenomys (Sulawesi), juga memiliki pola geraham oklusal yang menyerupai Spelaeomys.

Spesies ini ditemukan dalam penggalian di Liang Toge, sebuah gua di dekat Warukia di Flores Barat. Penggalian dilakukan oleh H.R. van Heekeren pada tahun 1954. Penyebab kepunahannya belum diketahui secara pasti. Beberapa spekulasi menyatakan bahwa hewan ini punah karena diburu, faktor alam, atau terserang penyakit.

3. Tikus Hidung Panjang Flores (Paulamys Naso)


Pulau Flores tak hanya punya dua hewan khas yang punah. Tikus Hidung Panjang (Paulamys naso) adalah spesies Hewan pengerat endemik Pulau Flores, Indonesia.

Pertama kali spesies ini diketahui dari fragmen subfosil pada tahun 1981 dan spesimen hidup dilaporkan ditemukan hidup wilayah hutan Montane di bagian barat Flores pada tahun 1991. Hewan ini diketahui hidup di ketinggian 1.000 hingga 2.000 meter pada Gunung Ranakah, tapi diyakini hewan ini dalam keadaan bahaya disebabkan kehilangan habitat.

Tikus Hidung panjang hanya satu-satunya dari genus Paulamys. Tikus Hidung Panjang adalah hewan asli Pulau Flores yang juga masih berkerabat dengan Tikus Gua Flores. Tikus yang bernama Latin Paulamys Naso ini, fosilnya ditemukan sekitar tahun 1981. Penemuan tersebut terjadi saat dilakukan penggalian di gua dekat Warukia, Flores Barat oleh H.R. van Heekeren.

Diduga, hewan tipe pengerat ini dulunya hidup di wilayah hutan Montane bagian barat Pulau Flores, Selain itu, banyak juga laporan terkait keberadaan hewan satu ini pada tahun tersebut. Dalam laporan itu menyebutkan bahwa tikus hidung panjang Flores menempati di sekitaran Hutan Montane, Flores Barat. Secara resmi, hewan ini dinyatakan punah oleh IUCN pada tahun 1996.

4. Kuau Bergaris Ganda (Argusianus Bipunctatus)


Dalam Bahasa Inggris, binatang berjenis unggas satu ini dikenal dengan nama double-banded Argus atau Kuau Bergaris Ganda (Argusianus bipunctatus). Walaupun hanya sedikit saja bukti akan keberadaannya, akan tetapi dipercaya bahwa binatang satu ini merupakan hewan asli Indonesia yang berhabitat di sekitar Pulau Jawa dan Sumatera. Bukti yang pernah ditemukan adalah bulu Kuau Bergaris Ganda yang dikirim ke London pada tahun 1871. Setelah diteliti, IUCN memasukkan Kuau Bergaris Ganda dalam daftar hewan yang sudah punah.

5. Harimau Tasmania (Thylacinus Cynocephalus)


Harimau tasmania (Thylacinus cynocephalus) adalah marsupialia karnivora terbesar pada kala modern. Hewan ini dinamai "harimau" karena memiliki punggung yang bercorak belang, tetapi ada juga yang menyebutnya serigala tasmania karena bentuk tubuh dan sifatnya mirip hewan dari famili Canidae. Hewan ini merupakan hewan asli Australia, Tasmania, dan Papua. Harimau tasmania mengalami kepunahan pada abad ke-20, dan hewan ini sendiri merupakan spesies terakhir dari familinya, Thylacinidae. Spesimen-spesimen anggota famili Thylacinidae sendiri telah ditemukan dalam rekaman fosil yang dapat ditilik kembali hingga kala Oligosen.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, hewan ini adalah hewan nokturnal yang cukup pemalu, dengan bentuk tubuh yang mirip dengan anjing, kecuali untuk ekornya yang kaku, kantong di perut (mirip dengan kanguru), serta corak belang di punggungnya. Harimau tasmania merupakan predator puncak seperti harimau dan serigala di Belahan Utara. Namun, hewan ini sama sekali tidak berkerabat dekat dengan hewan-hewan tersebut karena harimau tasmania tergolong sebagai marsupialia, tetapi akibat proses evolusi konvergen hewan ini memiliki bentuk tubuh dan adaptasi yang mirip dengan mereka.

Kerabat terdekatnya pada kala modern adalah setan tasmania atau numbat. Harimau tasmania merupakan salah satu dari dua spesies marsupialia di dunia dengan kantong pada hewan betina dan jantan (yang lainnya adalah oposum air). Kantong pada harimau tasmania jantan berfungsi sebagai selaput pelindung yang menutupi organ perkembangbiakan luarnya saat ia melewati belukar-belukar lebat. Harimau tasmania telah dideskripsikan sebagai pemangsa yang ulung berkat kemampuannya untuk bertahan hidup dan memburu mangsa di wilayah yang jarang dihuni.


Harimau tasmania telah menjadi hewan yang amat langka atau bahkan punah di benua Australia sebelum masa penjajahan Britania, tetapi hewan ini berhasil bertahan di Pulau Tasmania bersama dengan sejumlah spesies endemik lainnya, termasuk setan tasmania. Selain akibat perburuan berhadiah yang berlebihan, kepunahan hewan ini mungkin juga dipicu oleh serangan penyakit, kedatangan spesies anjing, dan gangguan manusia terhadap habitatnya. Meskipun secara resmi dianggap telah punah, laporan tentang terlihatnya hewan ini masih muncul, walaupun belum ada yang terbukti.

6. Harimau Bali (Panthera Tigris Balica)


Harimau bali (Panthera tigris sondaica[1]) adalah subspesies harimau yang sudah punah dan habitatnya di Pulau Bali, Indonesia. Harimau ini adalah salah satu dari tiga subspesies harimau di Indonesia bersama dengan harimau jawa (juga telah punah) dan harimau sumatera (spesies terancam). Harimau ini adalah harimau terkecil dari ketiga subspesies; harimau terakhir ditembak pada tahun 1925, dan subspesies ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Subspesies ini punah karena kehilangan habitat dan perburuan.

Pada tahun 2017, Satuan Tugas Klasifikasi Kucing dari Cat Specialist Group merevisi taksonomi kucing sehingga populasi harimau yang hidup dan punah di Indonesia sekarang digolongkan sebagai P. t. sondaica

7. Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica)


Harimau merupakan hewan karnivora yang memiliki beberapa rumpun dan tersebar di seluruh dunia. Khususnya di Pulau Jawa, ada harimau yang merupakan penghuni asli dari pulau ini dinamakan harimau Jawa. Binatang ini memiliki ukuran panjang sekitar 2,43 meter dengan bobot 100-141 kg untuk yang jantan dan panjang sama dengan bobot sekitar 75-115 untuk yang betina.

Keberadaan harimau Jawa di tahun 1950-an semakin berkurang karena habitat atau tempat tinggalnya sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau ladang, serta perburuan besar-besaran oleh manusia.

Sampai akhir tahun 1979, keberadaan harimau Jawa diketahui hanya tersisa 3 ekor saja dan secara resmi, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pada tahun 1980-an, harimau Jawa dinyatakan punah. Walaupun sekitar tahun 1990-an ada banyak laporan bahwa beberapa orang masih sempat menjumpai hewan satu ini, namun buktinya belum dapat diverifikasi secara jelas.

Selain tujuh satwa di atas, masih ada beberapa hewan asli Indonesia lainnya yang sudah mendekati kepunahan karena kehilangan habitat juga karena perburuan, seperti halnya badak, burung Maleo, Mentok Rimba, pesut Mahakam sampai dengan Bekantan.

Jika tidak ada pelestarian dan kesadaran dari semua pihak, maka menjadi satu hal yang tidak mungkin bahwa beberapa tahun lagi, generasi penerus bangsa ini hanya akan dapat melihat hewan-hewan tersebut melalui buku atau media lainnya saja, bukan secara langsung karena binatang yang bersangkutan sudah punah.

Dari berbagai sumber